Fathan Fauzul Akbar, Bandung-4/12/2022
Keberadaan Masjid Agung Banjaran sangat vital bagi masyarakat sekitarnya. Beberapa warga ada yang menggantungkan hidupnya lewat berdagang di masjid yang berlokasi di Desa Banjaran Kulon Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung ini.
Foto dan gambar diatas merupakan transformasi ke-3 dan terbaru masjid agung banjaran,dan masjid ini punya banyak sejarah dari waktu ke waktu.
Lokasi masjid ini cukup strategis dan selalu ramai. Di sebelah alun-alun Banjaran, warga sekitar banyak beraktifitas di sekitaran masjid. Mulai dari kegiatan ekonomi hingga kegiatan sosial.
Setelah Renovasi ditahun 2015 masjid ini tetap ramai dikunjungi para jama'ah dan warga sekitar,dan selalu aktif untuk digunakan kegiatan-kegiatan syiar-syiar Keislaman.
Sejak tahun 2000 silam,masjid ini telah mendirikan Madrasah Diniyyah dan Raudatul Athfal (Taman Kanak-Kanak) guna sarana kegiatan belajar mengajar.
Menurut sejarah, masjid alun-alun banjaran sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda sekitar awal tahun 1900-an.
Masjid besar Banjaran sudah didirikan pada zaman penjajahan Belanda, yakni sekitar awal tahun 1900-an. Dahulu, bahan bangunan masjid setengahnya adalah kayu. Interior kayu terletak pada tiang-tiangnya yang totalnya berjumlah 32. Setelah bertahun-tahun, pada sekitar 1980-an, barulah masjid besar Banjaran ini mulai direnovasi.
Konon pada zaman penjajahan Masjid ini sering digunakan untuk bangsa indonesia mengungsi dari rumah-rumah mereka guna berlindung dari serangan para penjajah.
Pada tahun 1960,luas tanah yang merupakan wakaf dari Raden Gandakusuma ini sekitar 70 meter persegi dan dibangun dengan gotong royong dari warga sekitar.
Lalu terjadi renovasi kedua ditahun 1966 dengan bantuan berupa uang dari Presiden Soeharto.
Sejak pembangunan masjid alun-alun banjaran,penyebaran agama islam diwilayah ini mulai berkembang dengan pesat dan sampai sekarang banyak digunakan untuk acara-acara dan kegiatan beragama.

.jpg)
